Central Location Test (CLT)

Central Location Test (CLT) pada dasarnya adalah metode survei tatap muka dimana responden akan diundang, baik melalui pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan sebelumnya, ke sebuah lokasi yang nyaman (mulai dari ruang publik sampai ke fasilitas khusus). Rancangan ini digunakan untuk studi yang memerlukan materi stimulus yang mungkin akan ditampilkan dan/atau diuji dalam kondisi standar.

Misalnya, dalam tes kemasan mungkin memerlukan menampilkan rak toko dalam ukuran yang sebenarnya atau mengukur eye-tracking, yaitu tes sensorik menggunakan pencahayaan khusus dan ratusan sampel (prototype) yang perlu disimpan dalam kondisi yang cukup aman, dll. Central Location Test (CLT) digunakan dalam berbagai situasi penelitian, al:

  1. Concept tests 
  2. Product tests 
  3. Sensory research 
  4. Advertising/copy test 
  5. Packaging tests 
Keuntungan lain dari teknik ini adalah untuk memastikan keamanan yang ketat dan langkah-langkah untuk menjaga kerahasiaan ide/konsep. Keunggulan-keunggulan ini tidak akan ditemui dalam teknik survei lainnya.

Berikut ini beberapa skenario test yang bisa disesuaikan dengan tujuan penelitian Anda;

1. Monadic Test

Dalam hal ini setiap responden menilai hanya satu produk kemudian dituangkan dalam sebuah kuesioner. Skenario ini digunakan dalam situasi misalnya peluncuran produk baru, yaitu untuk mengetahui apakah produk yang akan diluncurkan dapat diterima oleh konsumen. Jenis tes ini juga dapat digunakan untuk menilai produk-produk inovatif atau tidak memiliki kompetitor secara langsung di pasar. Jika ada kompetisi, maka tujuan dari tes ini adalah untuk menentukan posisi produk dalam kaitannya dengan produk pesaing, dan/atau untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan dari produk pesaing.

2. Paired Comparison

Ini merupakan tes perbandingan yang paling sederhana, yaitu melibatkan responden yang diperlihatkan dua produk pada saat yang sama dan meminta mereka untuk membandingkan dalam hal kriteria yang telah ditentukan kedalam sebuah kuesioner. Skenario ini juga bisa digunakan untuk membandingkan formula yang berbeda dari produk yang sedang dikembangkan dalam rangka mengetahui produk mana yang paling cocok untuk dipasarkan. Penting untuk diingat, bahwa evaluasi produk dalam tes perbandingan ini adalah evaluasi yang bersifat relatif, responden akan menilai produk mana yang menurut mereka adalah baik.

3. Sequential-monadic test

Sequential-monadic test biasanya digunakan untuk mendapatkan kedua penilaian produk baik relatif maupun absolute. Skenario ini melibatkan responden yang akan diminta untuk mengevaluasi beberapa konsep dengan cara dirotasi satu demi satu.
Pertama, responden diberikan satu produk dan diminta menilainya melalui sebuah kuesioner. Kemudian diberi produk yang kedua, dan memintanya untuk menilai lagi melalui kuesioner kedua. Terakhir, responden diberi sebuah kuesioner untuk membandingkan produk pertama dan kedua. Responden harus mendapatkan semua konsep secara merata sebagai titik awal, sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk melihat setiap konsep pertama.

4. Proto-monadic test

Skenario ini berbeda dengan sequential-monadic test karena tidak ada kuesioner untuk menilai produk kedua. Produk pertama yang dinilai dan produk kedua hanya digunakan sebagai pembanding produk pertama. Urutan di mana produk yang diperlihatkan akan dirotasi, sehingga akan memberikan hasil perbandingan, sekaligus evaluasi pada masing-masing produk.

5. Repeat paired comparison

Dalam skenario ini responden diminta untuk membandingkan dua produk yang sama setidaknya dua kali. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa penilaian responden tidak akan sembarangan atau hasil dari sekedar kesan sesaat. Responden akan diberikan dua produk sekaligus, dan sebuah kuesioner untuk membandingkan diantara keduanya. Namun responden tidak diberitahukan bahwa produk-produk tersebut adalah sama.

Contact Form